MAKALAH
KEBUDAYAAN POPULER
“DRAMA
KOREA DAN SINETRON”
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas kelompok
mata kuliah Pengkajian Kebudayaan Populer yang dibimbing oleh Ibu Laura Andri R.M, S.S, M.Hum.
Disusun oleh :
Dimas
Widiya Pratama 13010115120030
Fatikhatun
Nikmah 13010115120035
Afwan
Naufal Fanani 13010115120041
Muhammad
Zaki Ibrahim 13010115130050
PROGRAM
STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS
DIPONEGORO
SEMARANG
2017
KATA PENGANTAR
Pertama-tama
marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kita kehadirat Allah SWT, karena
berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah
tentang “ Drama dan Sinetron dalam Kebudayaan
Populer” ini dengan baik
dan lancar tanpa kekurangan satu apapun.
Makalah
ini dibuat dalam rangka untuk menyelesaikan tugas pada mata kuliah Kebudayaan
Populer. Selain itu juga, tujuan dalam
pembuatan makalah ini adalah untuk menambah wawasan kita mengenai pemahaman
tentang kebudayaan populer.
Kami
berharap untuk kedepannya, makalah ini dapat menjadi sumber referensi tentang
kesenian tradisional dan juga agar makalah ini bisa menambah wawasan dan
pengetahuan kita lagi. Kami juga menyadari bahwasannya makalah ini masih jauh
dari kata sempurna, maka dari itu kami selalu terbuka untuk menerima kritik dan
saran dari para pembaca semuanya demi penyempurnaan dan perbaikan makalah ini
kedepannya.
Semarang, November 2017
Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengertian budaya menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perilaku atau adat istiadat atau sesuatu
yang sudah menjadi kebudayaan yang sukar untuk diubah. Sedangkan kebudayaan
adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti
kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Kebudayaan adalah seluruh kemampuan manusia yang didasarkan pada
pemikiran, tercemin pada perilaku dan pada benda–benda hasil karya mereka, yang
diperoleh dengan cara belajar. Dengan demikian kebudaayaan merupakan ciptaan
manusia.
Kebudayaan populer
dibangun dan diciptakan karena ketidakmampuan seseorang terhadap kebudayaan high class dan tidak mau ketinggalan
dengan kebudayaaan tradisionalnya, maka diciptakanlah kebudayaan populer yang
bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Kebudayaaan populer juga
memiliki beberapa ciri yang akan diuraikan di bawah ini sehingga sesuatu bisa
dikatakan dalam kebudayaan populer jika memenuhi ciri dari kebudayaan populer
tersebut. Dalam masyarakat Indonesia kebudayaan populer sedang berada di puncak
kejayaan masa ini karena dukungan media yang sangat cepat sekali
perkembangannya sehingga kebudayaan populer ini banyak sekali peminatnya.
Contohnya saja musik dangdut yang
merupakan kebudayaan populer yang memang sangat disenangi oleh semua kalangan
baik tua muda, masyarakat golongan bawah, masyarakat menengah dan masyarakat high class. Karena memang ciri
kebudayaan populer ini mudah dijangkau dan disenangi oleh banyak orang.
Kebudayaan populer juga
tidak akan berkembang dan menjadi luas tanpa adanya media massa sebagai media
penyebar. Dengan adanya media massa, kebudayaan populer menjadi sangat
berkembang pesat dari satu individu ke individu yang lain. Karena di Indonesia
sendiri media massa sudah mengambil bagian penting dalam hal ini. Jadi, mau tidak
mau kita haru menyaring kebudayaan yang masuk melalui perantara media massa
itu, dengan sendirinya.
Banyak sekali contoh
kebudayaan populer yang ada di Indonesia selain dangdut di atas, di antaranya
kuliner, fashion, life style, e-book,
pendidikan, perilaku masyarakat, sastra, musik, video, dll.
Dewasa ini kebudayaan
populer sudah menjadi salah satu hal yang erat kaitannya dengan pengguna media
massa, yaitu seluruh masyarakat yang paham akan perkembangan jaman. Adanya
kebudayaan populer menuntut masyarakat agar tidak ketinggalan jaman. Karena
dengan mengikuti perkembangan jaman akan membawa banyak keuntungan bagi diri.
Peluang kebudayaan populer dalam industri kebudayaan dan kapitalisasi sangat
tinggi. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan populer semakin marak
dimasyarakat, sehingga menjanjikan jika kapitalisasi disebarluaskan pada
masyarakat. Bisa dalam bentuk musik, lagu, gaya hidup, dan lain sebagainya. Dalam pembahasan ini objek yang akan dibahas adalah drama korea dan
sinetron yang memang sudah populer di masayarakat
kekinian dan menjadi budaya baru dalam masyarakat Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, ditentutakan rumusan
masalah, bagaimanakah drama korea dan sinetron termasuk kebudayaan populer?
BAB 2
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1 Drama korea dan sinetron dalam kebudayaan populer.
2.1.1 Drama Korea
Drama korea adalah drama yang mengacu pada drama televisi di Korea,
dalam sebuah format miniseri yang diproduksi oleh korea dan menggunakan bahasa
korea. Drama korea ini sudah menjadi populer di seluruh belahan dunia terutama
Asia dan telah memberi kontribusi pada gelombang korea, biasanya kita menyebutnya
demam Korean drama. Secara umum, ada dua genre utama dalam drama korea. Genre
yang pertama menyerupai opera sabun barat dengan plot pendek dan berakhir
cepat. Biasanya genre ini meliputi hubungan percintaan. Sedangkan genre yang
utama adalah mengenai sejarah drama korea yang merupakan dramatisasi fiksi
sejarah korea. Biasanya drama sejarah korea ini melibatkan banyak alur cerita
yang sangat kompleks dengan kostum, set, dan efek khusu yang terbilang rumit.
Di Indonesia sendiri, drama korea meraih populeritasnya yang sangat
diminati masyarakat Indonesia termasuk anak muda. Apalagi di Indonesia sendiri
terdapat stasiun televisi yang menyiarkan Korean drama tersebut.
2.1.2
Sejarah
Drama Korea
Istilah hallyu pertama kali diperkenalkan oleh
jurnalis Beijing pada pertengahan 1999 di Cina sebagai suatu keterkejutan
terhadap pesatnya pertumbuhan populeritas hiburan
dan budaya di
Cina, Sejak saat itu,
ledakan budaya pop
Korea meningkat dan mencapai
tahap penetrasi aktif
di berbagai belahan Asia.
Kebudayaan pop yang terangkum dalam
industri hiburan film,
serial drama, dan musik menjadi kekuatan budaya yang
memainkan peranan penting bagi Korea, baik di Asia maupun
di kawasan lainnya. Dimulai dari
Cina, kemudian kawasan
Asia lainnya, Timur Tengah,
Eropa, Amerika, dan
Afrika, hallyu menjadi pintu gerbang masuknya turis
ke Korea. Bahkan di Asia
Tenggara, drama Korea menjadi program reguler di televisi
Thailand dan Myanmar, aktor dan
aktris Korea menjadi selebriti nasional
yang diidolakan di
Vietnam, Korea menjadi destinasi
utama liburan orang Singapura, dan permainan onlineyang
diekspor dari Korea menjadi permainan yang sensasional di Indonesia,
Malaysia, dan Filipina.
Korea kemudian berubah dalam
beberapa tahun terakhir, dari
negara yang tidak
memiliki signifikansi budaya menjadi pusat baru produksi budaya di Asia. Pertumbuhan budaya Korea ini tidak lepas dari intervensi
kebijakan budaya pemerintah Korea di
tahun 1980-an untuk
memajukan perekonomian dalam sistem
politik otoritarian.
Pertumbuhan
ekonomi mengalami peningkatan signifikan dengan
tujuan pembelanjaannegara pada
kegiatan yang telah ditentukan. Sayangnya pada
era ini Korea
membatasi secara ketat industri perfilman
yang notabene merupakan salah satu
pilar kebudayaan. Ketika
kebutuhan akan demokrasi semakin
mendesak di tahun 1987,
terdapat perubahan signifikan
terhadap kebebasan berekspresi bagi para pembuat film. Perkembangan industri perfilman Korea ditunjukkan bahwa film-film
domestik bernilai jual
dan memiliki pasarnya
sendiri, dengan fluktuasi marketshare yang bersaing
dengan film asing
diKorea.
Film Korea
tidak hanya dinikmati secara
regional, tetapi juga
di ekspor. menunjukkan peningkatan ekspor
film Korea ke
berbagai negara, baik di
Asia maupun di
luar Asia. Perluasan pasar
berarti film Korea bisa diterima di
negara lain. Dampaknya, perfilman Korea semakin maju
dan memberikan keuntungan yang tidak sedikit kepada negara.
Jumlah Ekspor Film Korea Tahun 2002-2006 Perkembangan film
juga diiringi dengan perkembangan industri pertelevisian,
melalui pembuatan serial
drama yang kini menjadi ekspor terbesar sistem penyiaran
di Korea. Perkembangan industri
ini dipicu oleh kompetisi
ketat di antara
jaringan pertelevisian untuk mencapai rating tertinggi.Mayoritas drama
yang disiarkan adalah yang
berbasis pada historis
dan romantisme sehingga cocok
untuk dikonsumsi penonton dari lapisan
manapun. Implikasinya, serial
drama memiliki daya jual yang bagus untuk diekspor ke negara lain,
terutama negara-negara di kawasan Asia
yang memiliki kedekatan
budaya dan geografis dengan
Korea Destinasi Ekspor Program Televisi Korea Tahun 2005-2010
Budaya pop Korea
yang mampu melakukan penetrasi aktif secara global lainnya adalah
musik, yang dikenal
dengan sebutan K-Pop (KoreanPop). Jenis musik yang diusung adalah elektronik, elektro pop, hip-hop, R&B, balada,
rock, dan pop
yang ditampilkan dengan tarian
dan dinyanyikan dalam
bahasa Korea oleh orang Korea sendiri. Perkembangan musik Korea
sebagai industri independen dimulai di
awal 1990-an, setelah
sebelumnya digabung dengan industri pertelevisian. Industri
musikkemudian memanfaatkan pertelevisian dengan menyiarkan
konser musik, video
klip, berita pembuatan album
musik, wawancara penyanyi,
dan sebagainya untuk
meningkatkan popularitas musik Korea.
2.1.3
Sinetron
Indonesia
Sinetron atau sinema elektronik adalah istilah untuk progam drama
bersambung produksi Indonesia yang disiarkan oleh stasiun televisi di
Indonesia. Sinetron pada umumnya bercerita tentang kehidupan manusia
sehari-hari yang diwarnai konflik berkepanjangan. Seperti layaknya drama atau
sandiwara, sinetron diawali dengan pengenalan tokoh yang memiliki karakter yang
khas satu sama lain yang kemudia mempunyai masalah yang makin lama makin besar
sampai tahap anti klimaks. Akhir dari sinetron biasanya berakhir bahagia atau
sedih tergantung dari penulis scenario.
2.1.4
Sejarah
Sinetron Indonesia
Awal
kemunculan sinetron bermula dari siaran drama berseri di beberapa radio Amerika
sekitar tahun 1930-an. Mayoritas pendengar radio waktu itu adalah ibu-ibu rumah
tangga. Sambil mengisi waktu luang atau saat sedang merapikan seisi rumah para,
ibu-ibu terbiasa mendengarkan drama serial yang disampaikan radio.
Nampaknya
ini menjadi peluang emas bagi perusahaan deterjen dan beberapa produk
kebersihan lainnya untuk memasang iklan disela-sela drama berseri tersebut.
Oleh karena itu drama serial ini kemudian dikenal dengan soap opera (opera
sabun). Setelah kemunculan televisi warna di tengah-tengah masyarakat sekitar
tahun 1940-an berkat karya Peter Goldmark, drama berseri yang semula disiarkan
di beberapa radio beralih ke televisi namun masih dengan nama opera sabun. Hal
yang sama terjadi di Spanyol namun drama seri di Spanyol dikenal dengan
telenovela.
Di Indonesia
istilah sinetron dikenalkan pertama kali oleh Bapak Soemardjono, salah satu
pendiri Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Sinetron sendiri berasal dari Sinema
Elektronik yaitu sebuah tayangan sinema (film) berseri yang ditonton
melalui media elektronik (televisi).
Sinetron
yang pertama kali muncul di Indonesia berjudul ‘Losmen’ yang ditayangkan
sekitar tahun 80-an oleh TVRI, stasiun televisi milik pemerintah Indonesia
sekaligus satu-satunya televisi yang ada saat itu. Losmen bercerita tentang
kehidupan sehari- hari keluarga Pak Broto yang mengelola penginapan (Losmen).
Drama ini dibintangi oleh aktor dan aktris senior seperti Dewi Yull, Mieke
Wijaya dan Mathias Muchus.
Berbeda dengan
sinetron sekarang yang penayangannya setiap hari, drama Losmen ditayangkan
sebulan sekali karena jam siaran TVRI yang masih terbatas. Jadi, untuk menonton
episode selanjutnya harus menunggu bulan berikutnya. Meskipun demikian,
istilah sinetron baru digunakan pada drama berseri, Jendela Rumah Kita pada
tahun 1989.
Tidak lama
kemudian muncul televisi-telvisi swasta yang diawali oleh RCTI (Rajawali Citra
Televisi Indonesia), yang mengudara pada pada 13 November 1988. Kemudian RCTI
diresmikan 24 Agustus 1989. Akan tetapi RCTI mulai diakses oleh masyarakat
sekitar akhir 1991.
Tayangan
sinetron pun mulai membanjiri saluran tv swasta. Sebutlah diantaranya Si
Cemplon, Si Doel Anak Sekolahan dan masih banyak lainnya. Diantara
sinetron-sinetron yang ada pada masa itu, Si Doel Anak Sekolahan adalah
sinetron paling populer dan mendapat tempat di hati masyarakat. Sampai akhirnya
sinetron Si Doel Anak sekolahan dibuat hingga beberapa sekuel dengan pemeran
utamanya, Rano Karno.
Memasuki
tahun 1995 hingga 1998, tema sinetron sedikit bergeser. Para sutradara membuat
sinetron yang diadaptasi dari film layar lebar tahun 80-an, semisal Lupus, Olga
dan Catatan Si Boy. Di era ini pula, sinetron dari negeri Latin, alias
telenovela membanjiri layar kaca Indonesia. Diantara yang populer adalah Maria
Mercedes yang melambungkan nama pemainnya, Thalia.
Berikutnya
di tahun 1998, Multivision Plus sebagai salah satu perusahaan pembuat film di
Indonesia, membuat sinetron ‘Tersanjung’. Sinetron ini adalah sinetron
terpanjang yang pernah dibuat, terdiri dari 356 episode yang dibagi beberapa
sekuel. Pada masa ini, tema sinetron kembali berubah. Kebanyakan sinetron yang
diproduksi merupakan adaptasi dari novel- novel terkenal seperti Karmila.
2.1.5
Drama
Korea dan Sinetron menjadi kebudayaan populer
Berbicara masalah drama korea dan sinetron, sebenarnya kedua hal
tersebut adalah sama. Dimana sama-sama menceritakan tentang cerita yang sama,
alur yang sama, akhir yang sama pula, yang membedakan adalah orang-orang yang
terdapat dalam cerita tersebut. Dimana sinetron dimainkan oleh orang Indonesia,
dan Drama Korea dimainkan oleh orang korea. Kedua hal tersebut sekarang sangat
diminati oleh masyarakat terutama anak muda. Dikarenakan daya komsumtif yang
terus menerus meninggi menjadikan drama korea dan sinetron menjadi terobosan
baru di kebudayaan populer. Dimana kebudayaan itu sendiri tercipta karena
adanya kebiasan yang terus menerus dilakukan.
Kelompok kami memilih kedua objek tersebut sebagai kebudayaan populer
karena menurut kelompok kami kedua hal tersebut telah memenuhi karakteristik
sebagai kebudayaan populer. Berikut karakteristiknya:
a. Menciptakan Trend
Drama korea dan sinetron sangat
berpengaruh dalam kehidupan masyarakat terkhusus anak muda jaman sekarang yang
daya komsumtifnya tinggi. Untuk drama korea dan sinetron sendiri telah
menciptakan aura yang sangat luar biasa untuk anak jaman sekarang. Para pecinta
drama korea mungkin akan terkagum-kagum melihat idolanya yang sangat ganteng
dan menawan. Hingga akhirnya pengikutnya akan memunculkan trend yang baru.
Contohnya saja Korean style yang diikuti masyarakat jaman sekarang adalah gaya
tokoh yang ada di drama korea tersebut. Begitupun sinetron, katakanlah anak
lagit yang membuat para penontonya ingin membeli motor ninja dan gaya rambut
seperti boy pada tokoh tersebut. Hal sekecil itu tercipta karena adanya kedua
hal ini.
b. Memiliki Keseragaman Bentuk
Jika berbicara masalah
keseragaman bentuk maka tidak perlu ditanyakan lagi bahwa drama korea dan
sinetron banyak sekali variasinya entah dari mulai episode yang sangat singkat
sampai panjang pun ada.
c. Bersifat sementara
Tidak bisa dipungkiri lagi
kebudayaan populer itu bersifat sementara. Sama halnya dengan Korean drama dan
sinetron yang keduanya akan lekang oleh waktu seiring dengan tingkat kebosanan
pengikutnya.
d. Bersifat profitabilitas
Dalam hal ini, kedua objek
tersebut sangat berpengaruh besar sekali dalam bidang profitabilitas sesuai
yang sudah dijelaskan diatas bahwa Korean drama menghasilkan banyak pemasukan
bagi korea dan bersifat menguntungkan. Begitupun sinetron Indonesia semakin
tinggi ratingnya maka akan semakin suskes dan meraup keuntungan. Dari segi
pemain juga akan lebih terkenal dan mempunyai fans yang membludak.
e. Mengubah pola konsumsi masyarakat
Pola konsumsi masyarakat memang sudah berubah sekarang, menjadi
masyarakat yang komsumtif dan ingin terima jadi dan bersih. Sama halnya dengan
hal ini yang membuat pola konsumsi masyarakat menjadi buta akan sinetron dan
drama korea. Inginnya jika ada waktu ingin menonton drama korea dan sinetron
tanpa henti. Selain itu,
masyarakat akan menirukan tokoh idola mereka dengan membeli baju atau barang yang
dipakai di dalam drama korea ataupun sinetron.
f.
Efek
budaya populer menghasilkan kesenangan dan mengalihkan perhatian
Drama korea dan sinetron
menimbulkan kesenangan semata karena membuat para pengikutnya senang dan
terbawa suasana ketika menonton. Entah terbawa jatuh cinta, menangis ataupun
cengingisan sendiri saat menonton.
g. Diviralkan oleh media
Media adalah sumber pokok
terbesar dalam dunia karakteristik kebudayaan populer karena tanpa media,
kebudayaan populer berupa drama korea dan sinetron tidak dapat sampai dan
dinikmati oleh masyarakat yang menyukainya. Intinya media adalah jembatan yang
sangat penting.
BAB 3
PENUTUP
PENUTUP
3.1
Simpulan
Kebudayaan populer
khususnya drama korea
dan sinetron
sedang melecit di
masa kejayaannya. Drama korea dan sinetron bersifat sementara ketika ada
tayangan baru yang muncul,
yang dirasa masyarakat jauh lebih menarik dan memenuhi keinginan mereka.
Kemunculan drama korea dan sinetron ini tak lebih karena media
massa. Tak hanya itu,
dengan semakin meningkatnya teknologi, semakin mudah pula seseorang mengakses
informasi dan mengunduh aplikasi susuai keinginan.
Perkembangan kebudayaan
masyarakat juga mendukung kemajuan drama korea dan sinetron yang secara umum diterima oleh
masyarakat. Ekspresi kekuasaan melalui teknologi pengaturan, artinya ternologi
tersebut menjadi pusat kekuasaan oleh kebudayaan-kebuayaan yang muncul. Viral
atau tidaknya suatu kebudayaan populer tersebut bergantung pada media, karena
media berperan sebagai pusat pengendali pikiran manusia. Normalisasi dan
regulasi berkerja pada suatu taraf kehidupan manusia atau masyarakat daan
berfungsi sebagai alat penyaring atau mesin kontrol, teknologi pengaturan dan
merupakan penanaman disiplin.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.penayasin.com/2011/01/sejarah-sinetron-indonesia.html
diakses pada tanggal 13November 2017
Irianto,
Agus Maladi. 2014. Media dan Kekuasaan:
Antropologi Membaca Dunia Kontemporer. Yogyakarta: Gigih Pustaka Mandiri.
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Wikipedia, Sinetron Indonesia (https://id.wikipedia.org/wiki/Sinetron)
diakses pada 13 November 2017
LAMPIRAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar