Kamis, 07 Desember 2017

PENGKAJIAN KEBUDAYAAN POPULER


MAKALAH KEBUDAYAAN POPULER
“DRAMA KOREA DAN SINETRON”


MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Pengkajian Kebudayaan Populer yang dibimbing oleh Ibu Laura Andri R.M, S.S, M.Hum.
Disusun oleh :
Dimas Widiya Pratama           13010115120030
Fatikhatun Nikmah                 13010115120035
Afwan Naufal Fanani              13010115120041
Muhammad Zaki Ibrahim       13010115130050

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017


KATA PENGANTAR

            Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kita kehadirat Allah SWT, karena berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah tentang “ Drama dan Sinetron dalam Kebudayaan Populer” ini dengan baik dan lancar tanpa kekurangan satu apapun.
            Makalah ini dibuat dalam rangka untuk menyelesaikan tugas pada mata kuliah Kebudayaan Populer. Selain itu juga, tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk menambah wawasan kita mengenai pemahaman tentang kebudayaan populer.
            Kami berharap untuk kedepannya, makalah ini dapat menjadi sumber referensi tentang kesenian tradisional dan juga agar makalah ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita lagi. Kami juga menyadari bahwasannya makalah ini masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu kami selalu terbuka untuk menerima kritik dan saran dari para pembaca semuanya demi penyempurnaan dan perbaikan makalah ini kedepannya.




Semarang,    November 2017



Penulis






BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pengertian budaya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perilaku atau adat istiadat atau sesuatu yang sudah menjadi kebudayaan yang sukar untuk diubah. Sedangkan kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Kebudayaan adalah seluruh kemampuan manusia yang didasarkan pada pemikiran, tercemin pada perilaku dan pada benda–benda hasil karya mereka, yang diperoleh dengan cara belajar. Dengan demikian kebudaayaan merupakan ciptaan manusia.
Kebudayaan populer dibangun dan diciptakan karena ketidakmampuan seseorang terhadap kebudayaan high class dan tidak mau ketinggalan dengan kebudayaaan tradisionalnya, maka diciptakanlah kebudayaan populer yang bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Kebudayaaan populer juga memiliki beberapa ciri yang akan diuraikan di bawah ini sehingga sesuatu bisa dikatakan dalam kebudayaan populer jika memenuhi ciri dari kebudayaan populer tersebut. Dalam masyarakat Indonesia kebudayaan populer sedang berada di puncak kejayaan masa ini karena dukungan media yang sangat cepat sekali perkembangannya sehingga kebudayaan populer ini banyak sekali peminatnya. Contohnya saja musik dangdut  yang merupakan kebudayaan populer yang memang sangat disenangi oleh semua kalangan baik tua muda, masyarakat golongan bawah, masyarakat menengah dan masyarakat high class. Karena memang ciri kebudayaan populer ini mudah dijangkau dan disenangi oleh banyak orang.
Kebudayaan populer juga tidak akan berkembang dan menjadi luas tanpa adanya media massa sebagai media penyebar. Dengan adanya media massa, kebudayaan populer menjadi sangat berkembang pesat dari satu individu ke individu yang lain. Karena di Indonesia sendiri media massa sudah mengambil bagian penting dalam hal ini. Jadi, mau tidak mau kita haru menyaring kebudayaan yang masuk melalui perantara media massa itu, dengan sendirinya.
Banyak sekali contoh kebudayaan populer yang ada di Indonesia selain dangdut di atas, di antaranya kuliner, fashion, life style, e-book, pendidikan, perilaku masyarakat, sastra, musik, video, dll.
Dewasa ini kebudayaan populer sudah menjadi salah satu hal yang erat kaitannya dengan pengguna media massa, yaitu seluruh masyarakat yang paham akan perkembangan jaman. Adanya kebudayaan populer menuntut masyarakat agar tidak ketinggalan jaman. Karena dengan mengikuti perkembangan jaman akan membawa banyak keuntungan bagi diri. Peluang kebudayaan populer dalam industri kebudayaan dan kapitalisasi sangat tinggi. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan populer semakin marak dimasyarakat, sehingga menjanjikan jika kapitalisasi disebarluaskan pada masyarakat. Bisa dalam bentuk musik, lagu, gaya hidup, dan lain sebagainya. Dalam pembahasan ini objek yang akan dibahas adalah drama korea dan sinetron yang memang sudah populer di masayarakat kekinian dan menjadi budaya baru dalam masyarakat Indonesia.

1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, ditentutakan rumusan masalah, bagaimanakah drama korea dan sinetron termasuk kebudayaan populer?



BAB 2
PEMBAHASAN

2.1  Drama korea dan sinetron dalam kebudayaan populer.
2.1.1      Drama Korea
Drama korea adalah drama yang mengacu pada drama televisi di Korea, dalam sebuah format miniseri yang diproduksi oleh korea dan menggunakan bahasa korea. Drama korea ini sudah menjadi populer di seluruh belahan dunia terutama Asia dan telah memberi kontribusi pada gelombang korea, biasanya kita menyebutnya demam Korean drama. Secara umum, ada dua genre utama dalam drama korea. Genre yang pertama menyerupai opera sabun barat dengan plot pendek dan berakhir cepat. Biasanya genre ini meliputi hubungan percintaan. Sedangkan genre yang utama adalah mengenai sejarah drama korea yang merupakan dramatisasi fiksi sejarah korea. Biasanya drama sejarah korea ini melibatkan banyak alur cerita yang sangat kompleks dengan kostum, set, dan efek khusu yang terbilang rumit.
Di Indonesia sendiri, drama korea meraih populeritasnya yang sangat diminati masyarakat Indonesia termasuk anak muda. Apalagi di Indonesia sendiri terdapat stasiun televisi yang menyiarkan Korean drama tersebut.

2.1.2      Sejarah Drama Korea
Istilah hallyu pertama kali diperkenalkan  oleh  jurnalis  Beijing  pada pertengahan 1999 di Cina sebagai suatu keterkejutan  terhadap   pesatnya   pertumbuhan populeritas  hiburan  dan  budaya  di  Cina,  Sejak saat  itu,  ledakan  budaya  pop  Korea  meningkat dan  mencapai  tahap  penetrasi  aktif  di  berbagai belahan Asia. Kebudayaan pop yang terangkum dalam  industri  hiburan  film,  serial  drama,  dan musik menjadi kekuatan budaya yang memainkan peranan penting bagi Korea, baik di Asia  maupun  di kawasan lainnya.  Dimulai dari Cina,  kemudian  kawasan  Asia  lainnya,  Timur Tengah,  Eropa,  Amerika,  dan  Afrika, hallyu menjadi pintu gerbang masuknya turis ke Korea. Bahkan  di  Asia  Tenggara,  drama  Korea menjadi program reguler di televisi Thailand dan Myanmar,   aktor   dan   aktris   Korea   menjadi selebriti  nasional  yang  diidolakan  di  Vietnam, Korea  menjadi  destinasi  utama  liburan  orang Singapura, dan permainan onlineyang diekspor dari Korea menjadi permainan yang sensasional di   Indonesia,   Malaysia,   dan   Filipina.   Korea kemudian    berubah    dalam    beberapa    tahun terakhir,   dari   negara   yang   tidak  memiliki signifikansi budaya menjadi pusat baru produksi budaya di Asia. Pertumbuhan budaya Korea ini tidak lepas dari  intervensi  kebijakan  budaya  pemerintah Korea   di   tahun   1980-an   untuk   memajukan perekonomian  dalam  sistem  politik  otoritarian.
Pertumbuhan  ekonomi  mengalami  peningkatan signifikan  dengan  tujuan  pembelanjaannegara pada kegiatan yang telah ditentukan. Sayangnya pada   era   ini   Korea   membatasi   secara   ketat industri  perfilman  yang  notabene  merupakan salah  satu  pilar  kebudayaan.  Ketika  kebutuhan akan  demokrasi  semakin  mendesak  di  tahun 1987,  terdapat  perubahan  signifikan  terhadap kebebasan berekspresi bagi para pembuat film. Perkembangan industri perfilman Korea ditunjukkan bahwa film-film domestik bernilai    jual dan memiliki pasarnya  sendiri,  dengan  fluktuasi marketshare yang  bersaing  dengan  film  asing  diKorea.
Film Korea  tidak hanya  dinikmati secara regional,  tetapi  juga  di  ekspor.  menunjukkan peningkatan   ekspor   film   Korea   ke   berbagai negara,  baik   di   Asia   maupun   di  luar   Asia. Perluasan pasar berarti film Korea bisa diterima di  negara  lain.  Dampaknya, perfilman  Korea semakin   maju   dan   memberikan   keuntungan yang tidak sedikit kepada negara. Jumlah Ekspor Film Korea Tahun 2002-2006 Perkembangan   film   juga   diiringi   dengan perkembangan industri pertelevisian, melalui  pembuatan  serial  drama  yang  kini menjadi ekspor terbesar sistem penyiaran di Korea.  Perkembangan  industri  ini  dipicu oleh   kompetisi   ketat   di   antara   jaringan pertelevisian untuk mencapai rating tertinggi.Mayoritas  drama  yang  disiarkan  adalah yang  berbasis  pada  historis  dan  romantisme sehingga cocok untuk dikonsumsi penonton dari lapisan  manapun.  Implikasinya,  serial  drama memiliki daya jual yang bagus untuk diekspor ke negara lain, terutama negara-negara di kawasan Asia   yang   memiliki   kedekatan   budaya   dan geografis dengan Korea Destinasi Ekspor Program Televisi Korea Tahun   2005-2010   Budaya   pop   Korea   yang mampu melakukan penetrasi aktif secara global lainnya   adalah   musik,   yang   dikenal   dengan sebutan K-Pop (KoreanPop). Jenis musik yang diusung adalah elektronik, elektro pop, hip-hop, R&B,  balada,  rock,  dan  pop  yang  ditampilkan dengan  tarian  dan  dinyanyikan  dalam  bahasa Korea oleh orang Korea sendiri. Perkembangan musik    Korea    sebagai    industri    independen dimulai  di  awal  1990-an,  setelah  sebelumnya digabung dengan industri pertelevisian. Industri musikkemudian   memanfaatkan   pertelevisian dengan  menyiarkan  konser  musik,  video  klip, berita   pembuatan   album   musik, wawancara penyanyi,  dan  sebagainya  untuk  meningkatkan popularitas musik Korea.


2.1.3      Sinetron Indonesia
Sinetron atau sinema elektronik adalah istilah untuk progam drama bersambung produksi Indonesia yang disiarkan oleh stasiun televisi di Indonesia. Sinetron pada umumnya bercerita tentang kehidupan manusia sehari-hari yang diwarnai konflik berkepanjangan. Seperti layaknya drama atau sandiwara, sinetron diawali dengan pengenalan tokoh yang memiliki karakter yang khas satu sama lain yang kemudia mempunyai masalah yang makin lama makin besar sampai tahap anti klimaks. Akhir dari sinetron biasanya berakhir bahagia atau sedih tergantung dari penulis scenario.

2.1.4      Sejarah Sinetron Indonesia
Awal kemunculan sinetron bermula dari siaran drama berseri di beberapa radio Amerika sekitar tahun 1930-an. Mayoritas pendengar radio waktu itu adalah ibu-ibu rumah tangga. Sambil mengisi waktu luang atau saat sedang merapikan seisi rumah para, ibu-ibu terbiasa mendengarkan drama serial yang disampaikan radio.
Nampaknya ini menjadi peluang emas bagi perusahaan deterjen dan beberapa produk kebersihan lainnya untuk memasang iklan disela-sela drama berseri tersebut. Oleh karena itu drama serial ini kemudian dikenal dengan soap opera (opera sabun). Setelah kemunculan televisi warna di tengah-tengah masyarakat sekitar tahun 1940-an berkat karya Peter Goldmark, drama berseri yang semula disiarkan di beberapa radio beralih ke televisi namun masih dengan nama opera sabun. Hal yang sama terjadi di Spanyol namun drama seri di Spanyol dikenal dengan telenovela.
Di Indonesia istilah sinetron dikenalkan pertama kali oleh Bapak Soemardjono, salah satu pendiri Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Sinetron sendiri berasal dari Sinema Elektronik yaitu sebuah tayangan sinema (film) berseri yang ditonton melalui media elektronik (televisi).
Sinetron yang pertama kali muncul di Indonesia berjudul ‘Losmen’ yang ditayangkan sekitar tahun 80-an oleh TVRI, stasiun televisi milik pemerintah Indonesia sekaligus satu-satunya televisi yang ada saat itu. Losmen bercerita tentang kehidupan sehari- hari keluarga Pak Broto yang mengelola penginapan (Losmen). Drama ini dibintangi oleh aktor dan aktris senior seperti Dewi Yull, Mieke Wijaya dan Mathias Muchus. 
Berbeda dengan sinetron sekarang yang penayangannya setiap hari, drama Losmen ditayangkan sebulan sekali karena jam siaran TVRI yang masih terbatas. Jadi, untuk menonton episode selanjutnya harus menunggu bulan berikutnya.  Meskipun demikian, istilah sinetron baru digunakan pada drama berseri, Jendela Rumah Kita pada tahun 1989.
Tidak lama kemudian muncul televisi-telvisi swasta yang diawali oleh RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), yang mengudara pada pada 13 November 1988. Kemudian RCTI diresmikan 24 Agustus 1989. Akan tetapi RCTI mulai diakses oleh masyarakat sekitar akhir 1991.
Tayangan sinetron pun mulai membanjiri saluran tv swasta. Sebutlah diantaranya Si Cemplon, Si Doel Anak Sekolahan dan masih banyak lainnya. Diantara sinetron-sinetron yang ada pada masa itu, Si Doel Anak Sekolahan adalah sinetron paling populer dan mendapat tempat di hati masyarakat. Sampai akhirnya sinetron Si Doel Anak sekolahan dibuat hingga beberapa sekuel dengan pemeran utamanya, Rano Karno.
Memasuki tahun 1995 hingga 1998, tema sinetron sedikit bergeser. Para sutradara membuat sinetron yang diadaptasi dari film layar lebar tahun 80-an, semisal Lupus, Olga dan Catatan Si Boy. Di era ini pula, sinetron dari negeri Latin, alias telenovela membanjiri layar kaca Indonesia. Diantara yang populer adalah Maria Mercedes yang melambungkan nama pemainnya, Thalia.
Berikutnya di tahun 1998, Multivision Plus sebagai salah satu perusahaan pembuat film di Indonesia, membuat sinetron ‘Tersanjung’. Sinetron ini adalah sinetron terpanjang yang pernah dibuat, terdiri dari 356 episode yang dibagi beberapa sekuel. Pada masa ini, tema sinetron kembali berubah. Kebanyakan sinetron yang diproduksi merupakan adaptasi dari novel- novel terkenal seperti Karmila.

2.1.5      Drama Korea dan Sinetron menjadi kebudayaan populer
Berbicara masalah drama korea dan sinetron, sebenarnya kedua hal tersebut adalah sama. Dimana sama-sama menceritakan tentang cerita yang sama, alur yang sama, akhir yang sama pula, yang membedakan adalah orang-orang yang terdapat dalam cerita tersebut. Dimana sinetron dimainkan oleh orang Indonesia, dan Drama Korea dimainkan oleh orang korea. Kedua hal tersebut sekarang sangat diminati oleh masyarakat terutama anak muda. Dikarenakan daya komsumtif yang terus menerus meninggi menjadikan drama korea dan sinetron menjadi terobosan baru di kebudayaan populer. Dimana kebudayaan itu sendiri tercipta karena adanya kebiasan yang terus menerus dilakukan.
Kelompok kami memilih kedua objek tersebut sebagai kebudayaan populer karena menurut kelompok kami kedua hal tersebut telah memenuhi karakteristik sebagai kebudayaan populer. Berikut karakteristiknya:
a.    Menciptakan Trend
Drama korea dan sinetron sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat terkhusus anak muda jaman sekarang yang daya komsumtifnya tinggi. Untuk drama korea dan sinetron sendiri telah menciptakan aura yang sangat luar biasa untuk anak jaman sekarang. Para pecinta drama korea mungkin akan terkagum-kagum melihat idolanya yang sangat ganteng dan menawan. Hingga akhirnya pengikutnya akan memunculkan trend yang baru. Contohnya saja Korean style yang diikuti masyarakat jaman sekarang adalah gaya tokoh yang ada di drama korea tersebut. Begitupun sinetron, katakanlah anak lagit yang membuat para penontonya ingin membeli motor ninja dan gaya rambut seperti boy pada tokoh tersebut. Hal sekecil itu tercipta karena adanya kedua hal ini. 

b.    Memiliki Keseragaman Bentuk
Jika berbicara masalah keseragaman bentuk maka tidak perlu ditanyakan lagi bahwa drama korea dan sinetron banyak sekali variasinya entah dari mulai episode yang sangat singkat sampai panjang pun ada.

c.    Bersifat sementara
Tidak bisa dipungkiri lagi kebudayaan populer itu bersifat sementara. Sama halnya dengan Korean drama dan sinetron yang keduanya akan lekang oleh waktu seiring dengan tingkat kebosanan pengikutnya.

d.    Bersifat profitabilitas
Dalam hal ini, kedua objek tersebut sangat berpengaruh besar sekali dalam bidang profitabilitas sesuai yang sudah dijelaskan diatas bahwa Korean drama menghasilkan banyak pemasukan bagi korea dan bersifat menguntungkan. Begitupun sinetron Indonesia semakin tinggi ratingnya maka akan semakin suskes dan meraup keuntungan. Dari segi pemain juga akan lebih terkenal dan mempunyai fans yang membludak.

e.    Mengubah pola konsumsi masyarakat
Pola konsumsi masyarakat memang sudah berubah sekarang, menjadi masyarakat yang komsumtif dan ingin terima jadi dan bersih. Sama halnya dengan hal ini yang membuat pola konsumsi masyarakat menjadi buta akan sinetron dan drama korea. Inginnya jika ada waktu ingin menonton drama korea dan sinetron tanpa henti. Selain itu, masyarakat akan menirukan tokoh idola mereka dengan membeli baju atau barang yang dipakai di dalam drama korea ataupun sinetron.

f.    Efek budaya populer menghasilkan kesenangan dan mengalihkan perhatian
Drama korea dan sinetron menimbulkan kesenangan semata karena membuat para pengikutnya senang dan terbawa suasana ketika menonton. Entah terbawa jatuh cinta, menangis ataupun cengingisan sendiri saat menonton.

g.    Diviralkan oleh media
Media adalah sumber pokok terbesar dalam dunia karakteristik kebudayaan populer karena tanpa media, kebudayaan populer berupa drama korea dan sinetron tidak dapat sampai dan dinikmati oleh masyarakat yang menyukainya. Intinya media adalah jembatan yang sangat penting.



BAB 3
PENUTUP

3.1 Simpulan
Kebudayaan populer khususnya drama korea dan sinetron sedang melecit di masa kejayaannya. Drama korea dan sinetron bersifat sementara ketika ada tayangan baru yang muncul, yang dirasa masyarakat jauh lebih menarik dan memenuhi keinginan mereka. Kemunculan drama korea dan sinetron ini tak lebih karena media massa. Tak hanya itu, dengan semakin meningkatnya teknologi, semakin mudah pula seseorang mengakses informasi dan mengunduh aplikasi susuai keinginan.
Perkembangan kebudayaan masyarakat juga mendukung kemajuan drama korea dan sinetron yang secara umum diterima oleh masyarakat. Ekspresi kekuasaan melalui teknologi pengaturan, artinya ternologi tersebut menjadi pusat kekuasaan oleh kebudayaan-kebuayaan yang muncul. Viral atau tidaknya suatu kebudayaan populer tersebut bergantung pada media, karena media berperan sebagai pusat pengendali pikiran manusia. Normalisasi dan regulasi berkerja pada suatu taraf kehidupan manusia atau masyarakat daan berfungsi sebagai alat penyaring atau mesin kontrol, teknologi pengaturan dan merupakan penanaman disiplin.








DAFTAR PUSTAKA

Irianto, Agus Maladi. 2014. Media dan Kekuasaan: Antropologi Membaca Dunia Kontemporer. Yogyakarta: Gigih Pustaka Mandiri.
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Wikipedia, Drama Korea (https://id.wikipedia.org/wiki/Drama_Korea) diakses pada 13 November 2017
Wikipedia, Sinetron Indonesia (https://id.wikipedia.org/wiki/Sinetron) diakses pada 13 November 2017







LAMPIRAN